Saat
anda tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk
mengerti kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan saatnya anda harus
diam adalah hal yang jauh berbeda, ini amat sulit. Salah satu fungsi bibir
adalah untuk dikatupkan, Maka diamlah. Bagai mana mungkin anda akan bisa
memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang selalu berucap?, Maka diamlah
demi kebeningan pandangan anda. Demi kejernihan otak anda. Orang yang mampu
diam di tengah keinginan untuk bicara, maka dia akan mampu menemukan kesadaran
dirinya. Dan sekali anda membuka mulut, anda akan temui betapa banyak
kalimah-kalimah meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-kata itu
tidak anda kehendaki. Tapi ingat, betapa sering kali orang tergelincir oleh kerikil
kecil. Bukan batu besar. Betapa banyak fitnah terlahir oleh lidah. Betapa
banyak pertikaian bermula dari lidah. Maka diamlah untuk sejenak demi
keselamatan.
Dalam
Hikmah dikatakan;
البلأ
موكَّلٌ بالمَنْطِقِ
“Bahwasanya
balak itu terwakili oleh ucapan”.
Ingatlah
akan butiran mutiara indah hanya akan bisa tercipta bilamana kerang mutiara
mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya,
maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya. Inilah umpama yg
mendekatinya, karena diam adalah mutiara yang mahal harganya. Kebijakan pula
seringkali tersimpan dalam diamnya para ahli bijak. Untuk mendapatkanya anda
harus membukanya dengan tenaga yang super extra. Ingat pesan Nabi bahwa
kesempurnaan Agama seseorang adalah ketika dia mampu meninggalkan hal-hal yang
tak berarti.
مِن
حُسن إسلام المرءِ تركُه مالا يعنيه
Dari
Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah
bilamana ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits
hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)
Namun
kebagusan Islam seseorang itu bertingkat-tingkat. Cukuplah seseorang
berpredikat bagus Islamnya jika telah melaksanakan yang wajib dan meninggalkan
yang haram. Dan puncak kebagusannya jika sampai derajat ihsan, yang tersebut
dalam hadits ke-dua dari Kitab Arbain Nawawy. Besarnya pahala dan tingginya
kemuliaan seseorang sesuai dengan kadar kebagusan Islamnya, hal tersebut bisa
diraihnya bilamana orang tersebut mampu Meninggalkan Sesuatu Yang Tidak
Penting. Sesuatu yang penting adalah sesuatu yang bisa memberi manfaat bagi
diri, orang lain atau alam sekitar, entah urusan dunia maupun akhirat.
Standar
manfaat diukur oleh syariat, karena sudah maklum bahwa yang diperintahkan oleh
syariat pasti membawa manfaat, dan yang dilarang pasti menimbulkan mudhorot.
oleh karena itu upaya untuk paham syariat adalah aktivitas yang sangat
bermanfaat. Adalah menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan Islamnya untuk
meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas hamba akan
dicatat, dan celakalah seseorang yang memenuhi catatannya dengan sesuatu yang
tidak penting, termasuk di dalamnya adalah semua bentuk kemaksiatan. Maka
diamlah sebelum anda terjerembak ke dalam gubangan dosa oleh lisan anda. Adalah
Shahabat Abu Bakar Ash Shiddik yang rela mengganjal mulutnya dengan batu selama
waktu satu tahun hanya supaya tidak banyak bicara. (Ar Risalah Al Qosyiriyah :
122).
Dan
juga Luqman AL hakim yang ber washiyat kepada putranya:
قال
لقمان لابنه : يابنىّ ما ندِمتُ على الصَمْتِ قطّ , فإنّ الكلام إذا كان مِن فضةٍ كان
السكوت من ذهبٍ ( الجواهر اللؤلؤية : 139 )
“Anakku...Tiada
penyesalan sama sekali dalam diamku. Karena sesungguhnya jika berbicara laksana
perak maka diam bak emas”
Diceritakan:
adalah orang sholih dahulu dimana mereka tidak akan bicara kecuali setelah
menata niatnya, jika mereka dapati niatnya gak bener mereka enggan bicara.
Karena menurut hemat mereka “ Tidak ada ucapan kecuali akan di pertanggung
jawabkan di akhirat”.
Di
satu hadis Rasulallah berkata:
من
كان يؤمن بالله واليوم الأخِر فليقل خيرا او ليصمُت
Dari
Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari
akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan
tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat
hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Kedudukan
Hadits ini merupakan hadits yang penting dalam bidang adab. Pada hadits di atas
menunjukkan ada 2 hak yang harus ditunaikan, yaitu hak Alloh dan hak hamba.
Penunaian hak Alloh porosnya ada pada senantiasa merasa diawasi oleh Allah.
Di
antara hak Alloh yang paling berat untuk ditunaikan adalah penjagaan lisan.
Adapun penunaian hak hamba, yaitu dengan memuliakan orang lain. Menjaga lisan
bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu
dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam
kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik
dibandingkan dengan berkata yang tidak baik.
Berkata baik terkait dengan 3
hal, seperti
tersebut dalam surat An-Nisa’: 114, yaitu perintah bershadaqoh, perintah kepada
yang makruf atau berkata yang membawa perbaikan pada manusia.
Perkataan yang di
luar ketiga hal tersebut bukan termasuk kebaikan, namun hanya sesuatu yang
mubah atau bahkan suatu kejelekan. Pada menjaga lisan ada isyarat menjaga
seluruh anggota badan yang lain, karena menjaga lisan adalah yang paling berat.
Memuliakan berarti melakukan tindakan yang terpuji yang bisa mendatangkan
kemuliaan bagi pelakunya.
Dengan
demikian memuliakan orang lain adalah melakukan tindakan yang terpuji terkait
dengan tuntutan orang lain.
Link : Elzajery
===================================================================
JANGAN LUPA JOIN PAYTREN
KLIK TOMBOL DIATAS, ATAU KLIK BANNER BERIKUT



0 komentar:
Posting Komentar