Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2018

Posted by Admin | File under : ,

Assalamu alaikum sahabat blogger yang budiman.
Sebelumnya saya mau mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1439 H, Marhaban Ya Ramadhan.
Sekian lama saya tidak berkunjung ke blog, Insya Allah hari ini sy mau memberikan sebuah cerita inspirasi
Berikut kisahnya :

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.

Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.

Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu.

Posted by Aldy Forester | File under : ,
" The Secret "

~ Saat kita memberi » kita akan menerima

~ Saat kita menolong org lain » pada saat yang sama kita sedang menolong diri sendiri.

~ Apa yg kita lakukan untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan untuk diri kita sendiri.

• Inilah rahasia kehidupan yang tersembunyi bagi banyak orang.

» Bukan karena mereka tidak melihat kebenaran ini, tapi karena mereka tidak mempercayainya.

Karena itu banyak orang lebih berbahagia menerima daripada memberi, lebih suka ditolong daripada menolong. Hidup hanya berpusat kepada diri sendiri.

ฮ‘da ilustrasi menarik :

๐Ÿ˜ŽSeorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya di malam hari.

Tangan kanannya memegang tongkat sementara tangan kirinya membawa lampu๐Ÿ•ฏ

Pemandangan ini cukup mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan melihatnya.

Supaya tidak penasaran,
pria itu bertanya, "Mengapa anda berjalan membawa lampu?"

Orang buta itu menjawab,
"Sebagai penerangan."

Dengan heran pria iฯ„u bertanya lagi, "Tapi.. bukankah anda buta & tetap tidak bisa melihat jalan meski ada lampu penerangan?"

Orang buta itu tersenyum sambil menjawab;
"Meski saya tidak bisa melihat, orang lain bisa melihatnya."

Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak menabrak saya."

» Disaat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri.*

Kita diingatkan untuk tidak jemu2 berbuat baik.

Ini sebuah rahasia kehidupan untuk hidup yang penuh berkat, berkelimpahan & bahagia.

"APA YANG  KITA LAKUKAN UTK ORANG LAIN, SUATU SAAT PASTI  AKAN KEMBALI"

๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

http://kontakk.com/@aldyforester

Kamis, 23 Juni 2016

Posted by Aldy Forester | File under : , , , , ,
Menjadi orang baik mungkin tidak susah. Tetapi bisa menjadi orang baik lagi benar tentu tidak mudah. Karena seringkali kita menjadi orang baik bukan atas kebaikan sejati. Lebih karena kepura-puraan.
Melakukan perbuatan baik belum tentu bisa dikatakan benar. Sebaliknya melakukan hal benar belum pasti akan dianggap perbuatan baik.
Dunia ini mengajarkan kepada kita, bahwa perbuatan baik yang dilakukan seseorang belum tentu hal itu benar adanya.
Karena kebaikan yang dilakukannya belum tentu berasal dari hati yang benar.
Perbuatan yang dianggap baik itu belum tentu membawa manfaat yang baik.

Seorang politikus terkenal dermawan. Suka menolong tetangganya yang kesulitan. Sering mengadakan acara keagamaan. Bagi-bagi sembako dan amplop. Oleh masyarakat ia dianggap orang baik. Tetapi ternyata semua dana yang digunakan didapat dari hasil mengakali dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat.

Ada lagi seorang anak juragan. Oleh teman-temannya dianggap orang baik. Karena begitu dermawan. Maka, setiap ada kesempatan selalu membelikan minuman keras untuk teman-temannya saat berkumpul.

Ada juga orang yang benar-benar melakukan perbuatan yang benar. Tetapi tidak selalu dianggap baik.
Misalnya seorang teman yang melarang teman agar tidak minum minuman keras dan berjudi. Bukannya berterima kasih, malahan dianggap sok alim. Banyak omong.
Ketika di kantor semua teman-teman kompak untuk korupsi. Sementara kita menolak. Resikonya justru kita dianggap tidak baik. Tidak solider.

Di dunia ini banyak orang baik. Tetapi sulit untuk menemukan orang yang baik lagi benar. Banyak orang yang baik di mata manusia. Baik menurut pengertian sendiri. Baik menurut kacamata duniawi.
Namun belum tentu baik di hadapan Tuhan. Karena banyak kebaikan yang dilakukan berpamrih. Bukan dari ketulusan hati.
Termasuk golongan manakah kita ini? Tentu hanya diri kita yang tahu dan pasti jawabannya. Tidak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Itupun kalau kita mau jujur pada diri sendiri.

Link : Kompasiana
Posted by Aldy Forester | File under : , , , , ,
Menjadi orang baik mungkin tidak susah. Tetapi bisa menjadi orang baik lagi benar tentu tidak mudah. Karena seringkali kita menjadi orang baik bukan atas kebaikan sejati. Lebih karena kepura-puraan.
Melakukan perbuatan baik belum tentu bisa dikatakan benar. Sebaliknya melakukan hal benar belum pasti akan dianggap perbuatan baik.
Dunia ini mengajarkan kepada kita, bahwa perbuatan baik yang dilakukan seseorang belum tentu hal itu benar adanya.
Karena kebaikan yang dilakukannya belum tentu berasal dari hati yang benar.
Perbuatan yang dianggap baik itu belum tentu membawa manfaat yang baik.

Seorang politikus terkenal dermawan. Suka menolong tetangganya yang kesulitan. Sering mengadakan acara keagamaan. Bagi-bagi sembako dan amplop. Oleh masyarakat ia dianggap orang baik. Tetapi ternyata semua dana yang digunakan didapat dari hasil mengakali dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat.

Ada lagi seorang anak juragan. Oleh teman-temannya dianggap orang baik. Karena begitu dermawan. Maka, setiap ada kesempatan selalu membelikan minuman keras untuk teman-temannya saat berkumpul.

Ada juga orang yang benar-benar melakukan perbuatan yang benar. Tetapi tidak selalu dianggap baik.
Misalnya seorang teman yang melarang teman agar tidak minum minuman keras dan berjudi. Bukannya berterima kasih, malahan dianggap sok alim. Banyak omong.
Ketika di kantor semua teman-teman kompak untuk korupsi. Sementara kita menolak. Resikonya justru kita dianggap tidak baik. Tidak solider.

Di dunia ini banyak orang baik. Tetapi sulit untuk menemukan orang yang baik lagi benar. Banyak orang yang baik di mata manusia. Baik menurut pengertian sendiri. Baik menurut kacamata duniawi.
Namun belum tentu baik di hadapan Tuhan. Karena banyak kebaikan yang dilakukan berpamrih. Bukan dari ketulusan hati.
Termasuk golongan manakah kita ini? Tentu hanya diri kita yang tahu dan pasti jawabannya. Tidak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Itupun kalau kita mau jujur pada diri sendiri.

Link : Kompasiana

Jumat, 17 Juni 2016

Posted by Aldy Forester | File under : , ,

Seorang ulama, Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi, ulama terkenal di Makkah, menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
Berapa banyak yang datang tahun ini? tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

Tujuh ratus ribu, jawab malaikat lainnya.
Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?
Tidak satupun

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
Apa? ia menangis dalam mimpinya. Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.

Kok bisa?
Itu Kehendak Allah
Siapa orang tersebut?
Said bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Said bin Muhafah.

Ada, ditepi kota Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

Benarkah Anda bernama Said bin Muhafah?tanya Ulama itu.
Betul, siapa tuan?
Aku Abdullah bin Mubarak
Said pun terharu, "Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?
Wah, saya sendiri tidak tahu!
Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini.

Maka Said bin Muhafah bercerita. Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :

Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wannimata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala nimat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis Ya allah aku rindu Mekah, Ya Allah aku rindu melihat kabah
Izinkan aku datang..
izinkan aku datang ya Allah..

Karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

Saya sudah siap berhaji
Tapi anda batal berangkat haji
Benar
Apa yang terjadi?
Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat
Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
Ya sayang
Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku

Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan Tidak boleh tuan.
Dijual berapapun akan saya beli
Makanan itu tidak dijual, tuan katanya sambil berlinang air mata.

Akhirnya saya tanya kenapa? Sambil menangis, janda itu berkata Daging ini halal untuk kami, namun haram untuk tuan katanya. Dalam hati saya berkata, bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi Kenapa?
Sudah beberapa hari ini kami tidak makan.
Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

Ini masakan untukmu
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.
Kalau begitu Engkau memang patut mendapatkannya."

Sumber :  Islamedia 


Rabu, 01 Juni 2016

Posted by Aldy Forester | File under : , , , , ,
Menjadi orang baik mungkin tidak susah. Tetapi bisa menjadi orang baik lagi benar tentu tidak mudah. Karena seringkali kita menjadi orang baik bukan atas kebaikan sejati. Lebih karena kepura-puraan.
Melakukan perbuatan baik belum tentu bisa dikatakan benar. Sebaliknya melakukan hal benar belum pasti akan dianggap perbuatan baik.
Dunia ini mengajarkan kepada kita, bahwa perbuatan baik yang dilakukan seseorang belum tentu hal itu benar adanya.
Karena kebaikan yang dilakukannya belum tentu berasal dari hati yang benar.
Perbuatan yang dianggap baik itu belum tentu membawa manfaat yang baik.

Seorang politikus terkenal dermawan. Suka menolong tetangganya yang kesulitan. Sering mengadakan acara keagamaan. Bagi-bagi sembako dan amplop. Oleh masyarakat ia dianggap orang baik. Tetapi ternyata semua dana yang digunakan didapat dari hasil mengakali dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat.

Ada lagi seorang anak juragan. Oleh teman-temannya dianggap orang baik. Karena begitu dermawan. Maka, setiap ada kesempatan selalu membelikan minuman keras untuk teman-temannya saat berkumpul.

Ada juga orang yang benar-benar melakukan perbuatan yang benar. Tetapi tidak selalu dianggap baik.
Misalnya seorang teman yang melarang teman agar tidak minum minuman keras dan berjudi. Bukannya berterima kasih, malahan dianggap sok alim. Banyak omong.
Ketika di kantor semua teman-teman kompak untuk korupsi. Sementara kita menolak. Resikonya justru kita dianggap tidak baik. Tidak solider.

Di dunia ini banyak orang baik. Tetapi sulit untuk menemukan orang yang baik lagi benar. Banyak orang yang baik di mata manusia. Baik menurut pengertian sendiri. Baik menurut kacamata duniawi.
Namun belum tentu baik di hadapan Tuhan. Karena banyak kebaikan yang dilakukan berpamrih. Bukan dari ketulusan hati.
Termasuk golongan manakah kita ini? Tentu hanya diri kita yang tahu dan pasti jawabannya. Tidak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Itupun kalau kita mau jujur pada diri sendiri.

Link : Kompasiana
Posted by Aldy Forester | File under : , , , , ,
Menjadi orang baik mungkin tidak susah. Tetapi bisa menjadi orang baik lagi benar tentu tidak mudah. Karena seringkali kita menjadi orang baik bukan atas kebaikan sejati. Lebih karena kepura-puraan.
Melakukan perbuatan baik belum tentu bisa dikatakan benar. Sebaliknya melakukan hal benar belum pasti akan dianggap perbuatan baik.
Dunia ini mengajarkan kepada kita, bahwa perbuatan baik yang dilakukan seseorang belum tentu hal itu benar adanya.
Karena kebaikan yang dilakukannya belum tentu berasal dari hati yang benar.
Perbuatan yang dianggap baik itu belum tentu membawa manfaat yang baik.

Seorang politikus terkenal dermawan. Suka menolong tetangganya yang kesulitan. Sering mengadakan acara keagamaan. Bagi-bagi sembako dan amplop. Oleh masyarakat ia dianggap orang baik. Tetapi ternyata semua dana yang digunakan didapat dari hasil mengakali dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat.

Ada lagi seorang anak juragan. Oleh teman-temannya dianggap orang baik. Karena begitu dermawan. Maka, setiap ada kesempatan selalu membelikan minuman keras untuk teman-temannya saat berkumpul.

Ada juga orang yang benar-benar melakukan perbuatan yang benar. Tetapi tidak selalu dianggap baik.
Misalnya seorang teman yang melarang teman agar tidak minum minuman keras dan berjudi. Bukannya berterima kasih, malahan dianggap sok alim. Banyak omong.
Ketika di kantor semua teman-teman kompak untuk korupsi. Sementara kita menolak. Resikonya justru kita dianggap tidak baik. Tidak solider.

Di dunia ini banyak orang baik. Tetapi sulit untuk menemukan orang yang baik lagi benar. Banyak orang yang baik di mata manusia. Baik menurut pengertian sendiri. Baik menurut kacamata duniawi.
Namun belum tentu baik di hadapan Tuhan. Karena banyak kebaikan yang dilakukan berpamrih. Bukan dari ketulusan hati.
Termasuk golongan manakah kita ini? Tentu hanya diri kita yang tahu dan pasti jawabannya. Tidak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Itupun kalau kita mau jujur pada diri sendiri.

Link : Kompasiana

Jumat, 27 Mei 2016

Posted by Aldy Forester | File under : ,
Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."
Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.

Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga

Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.

Link :  Motivation
Posted by Aldy Forester | File under : , ,

Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api.
Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon.
Bila korek api diibaratkan pikiran negatif maka satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak.
Oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita punya kepala dan juga otak. Jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.
 
Ketika burung hidup, ia makan ulat. Ketika burung mati, ulat makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita. Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. 

Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA.
Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.
Dan setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.

Saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung. Jadilah sahabat perjalanan hidup yang tulus.
ALLAH bersama kita. Dan mudah-mudahan selalu bersama kita.